Senja mulai tiba,  udara dingin datang menyelimuti sekte Api Langit, namun di sebuah ruangan. hanya ketegangan yang dirasakan, dimana salah satu tetua melaporkan situasi sekte kepada Leluhur Sekte Api Langit.

"Shen Mo?" Mata Leluhur menyipit. "Aku belum pernah mendengar nama itu. Apa yang dia inginkan?"

Tetua Lian menatapnya dalam-dalam sebelum menjawab, "Mereka menginginkan Kunci Dimensi... entah bagaimana, mereka mengetahui bahwa benda itu ada di sekte kita."

Leluhur terdiam. Kunci Dimensi... Sesuatu yang hanya segelintir orang di dunia ini ketahui. Bagaimana bisa mereka mengetahuinya?

Tetua Lian melanjutkan dengan suara penuh kepedihan, "Wakil Ketua Sekte, Ling Juan, tewas saat berusaha menyelamatkan Ketua Sekte dengan melawan Shen Mo. Salah satu muridnya, Ling Mei, terkena racun Penyedot Jiwa yang membuatnya hampir mati."

Leluhur menarik napas dalam, menekan kemarahan yang semakin membuncah di dadanya. Ketua dan Wakil Ketua Sekte telah tiada, sekte kini tanpa pemimpin.

Mata tajamnya beralih ke Tetua Lian saat nama itu disebutkan. "Ling Mei? Bukankah dia putri Ling Juan? Bagaimana kondisinya sekarang?"

Tetua Lian mengangguk pelan. "Benar, Leluhur. Ling Mei adalah putri Wakil Ketua Ling Juan. Siang tadi kami melihat kondisinya sudah membaik."

Leluhur mengangguk pelan dan berpikir sejenak. "Keberuntungan anak itu luar biasa...Belum pernah ada yang selamat dari racun Penyedot Jiwa. Jika Ling Mei benar-benar pulih, maka seseorang atau sesuatu telah menyembuhkannya. Aku harus menanyakan bagaimana cara mereka mengobatinya."

"Kemarin, Shen Mo mengaktifkan formasi yang menyerap semua energi spiritual kami—murid, guru, dan para tetua. Lima murid kita juga tewas dibunuh oleh mereka untuk mengancam ketua sekte agar memberi informasi keberadaan kunci dimensi, dan saat dia hendak membantai lebih banyak..." Tetua Lian menelan ludah, suaranya sedikit bergetar. "Orang misterius itu muncul."

Leluhur Sekte Api Langit tetap diam, mendengarkan dengan seksama.

"Plasura mengalahkan mereka dan membunuh Tetua Huang, si pengkhianat."

Leluhur mengangguk pelan, namun sorot matanya tetap tajam. "Baguslah pengkhianat itu sudah mati. Lalu, bagaimana dengan Shen Mo?"

Tetua Lian menundukkan kepalanya, ekspresinya dipenuhi rasa bersalah. "Karena racun di tubuh Ling mei bereaksi sehingga kami berpikir dia sudah tiada, Plasura segera menolongnya. Shen Mo dan anak buahnya memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Mereka tidak hanya kabur… tapi juga menculik Ketua Sekte dan Tetua Xie."

Leluhur terdiam beberapa saat, suasana ruangan dipenuhi ketegangan.

"Jadi yang menyelamatkan Ling Mei adalah Plasura? Bukan kalian?" Suaranya dingin, penuh tekanan. Tatapannya menyapu para tetua, membuat mereka menahan napas. Awalnya dia berencana ingin bertanya bagaimana cara mengobati seseorang yang terkena racun tersebut.

Tetua Lian menundukkan kepalanya semakin dalam. "Bukan, Leluhur. Orang misterius itu yang datang dan menetralisir racun serta luka di tubuhnya. Tapi... jiwanya mengalami kerusakan parah sehingga tidak sadarkan diri. Jika bukan karena Pil Jiwa yang dibawa utusan Wali Kota Huoling, dia pasti masih belum sadarkan diri hingga saat ini."

Leluhur menyipitkan mata. Semakin banyak kejanggalan dalam cerita ini. Jika Plasura benar-benar ingin membantu mereka, mengapa justru membunuh Ketua Sekte? Dia juga mengingat saat pertarungan, dia sudah merasa aneh karena orang tersebut hanya bertahan, tidak tampak sedikitpun hawa permusuhan darinya.

"Tetua Xie," Leluhur berujar setelah beberapa saat, "apa alasannya mereka membawanya? Dan bagaimana kalian bisa yakin bahwa Plasura yang membunuh Ketua Sekte?"

Tetua Lian menatap Leluhur dengan ekspresi ragu. "Kami tidak tahu alasan pasti mereka menculik Tetua Xie. Mungkin mereka ingin memaksanya atau menjadikannya alat tawar terhadap Ketua Sekte. Namun, saat kami berusaha menghimpun kekuatan agar bisa menyusul mereka, Tetua Xie akhirnya kembali ke sekte dan menceritakan sesuatu..."

Leluhur menajamkan pandangannya. "Apa yang dia katakan?"

"Dia mengaku bahwa awalnya mereka diselamatkan oleh Plasura. Tapi tak lama setelah itu, Plasura tiba-tiba membunuh Ketua Sekte tanpa alasan jelas."

Ruangan menjadi sunyi.

Leluhur menarik napas dalam-dalam, lalu menatap para tetua dengan sorot mata penuh tekanan. "Di mana Tetua Xie sekarang? Aku ingin mendengar sendiri darinya."

Tetua Lian menggeleng. "Itulah yang membuat kami semakin bingung, Leluhur. Setelah kami kembali dengan jasad Ketua Sekte, Tetua Xie yang menunggu di sekte tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Tidak ada satu pun yang melihat kepergiannya. Kami sudah mencarinya, tapi dia lenyap begitu saja. Semua hal yang sudah terjadi membuat kami menjadi merasa ragu"

Mata Leluhur menyipit, aura tekanan perlahan mengalir dari tubuhnya. "Kalian ragu...?"

"Benar Leluhur," Tetua Lian mengangguk. "Ada hal yang tidak masuk akal. Plasura menolong kami berkali-kali, tetapi dia sama sekali tidak pernah menanyakan atau membahas mengenai Kunci Dimensi. Jika dia punya niat jahat, seharusnya dia sudah merebutnya dari kami saat itu juga. Tidak ada satupun dari kami yang akan bisa melawannya."

Leluhur mengusap janggutnya, matanya menyipit penuh pertimbangan. "Menolong kalian berkali-kali, tetapi tidak tertarik pada kunci dimensi? Itu memang tidak masuk akal..."

Tetua Lian mengangguk. "Benar, Leluhur. Jika dia memang mengincarnya, seharusnya dia sudah merebutnya saat kesempatan terbuka lebar."

Leluhur terdiam, membiarkan pikirannya menyusun berbagai kemungkinan.

"Lalu, apa yang terjadi setelahnya?"

Tetua Lian menarik napas dalam sebelum melanjutkan. "Siang tadi, lima grandmaster dari Sekte Kegelapan yang Leluhur bunuh, menyerang sekte kita. Mereka datang di saat kekuatan kami belum pulih seperti saat ini, mengancam akan membinasakan kami semua jika tidak menyerahkan Kunci Dimensi yang dapat membuka dimensi tempat fragmen Senjata Iblis di segel."

Mata Leluhur berkilat tajam, auranya bergejolak. "Kunci Dimensi…! Jadi mereka menginginkan hal yang sama?"

Tetua Lian mengangguk dengan ekspresi tegang. "Benar, Leluhur. Dan sekali lagi, Plasura muncul untuk menolong kita. Karena kehadirannya, para grandmaster tersebut tidak berani melanjutkan niatnya dan ingin pergi."

Leluhur mempererat genggaman tangannya. "Orang seperti itu… siapa sebenarnya dia?"

"Kami pun bertanya-tanya hal yang sama, Leluhur." Tetua Lian menatap para tetua lainnya, yang semuanya tampak kebingungan. "Ketika kami berbicara dengannya setelah pertarungan Anda dengannya, kami tidak merasakan sedikit pun hawa permusuhan darinya. Jika dia benar-benar musuh, dia tidak akan repot-repot melindungi kami dari Sekte Kegelapan."

Leluhur mengangguk pelan, tatapannya semakin dalam. "Apa kalian mengenalnya? Dari mana asalnya?"

Semua tetua menggeleng serempak.

"Kami hanya bisa menebak, Leluhur," Tetua Lian berkata hati-hati. "Dari suaranya, dia masih muda. Mengenai kekuatannya... kami menduga itu berasal dari pakaian atau artefak yang dia kenakan. Saat pertemuan pertama, kami merasakan aura dia hanya berada di Forging Qi tingkat dua. Tapi siang tadi, kekuatannya sudah jauh melampaui kami. Itu mustahil terjadi dalam waktu singkat, kecuali dia memang memiliki rahasia besar. Dan kami yakin mereka orang yang sama dari suaranya.""

Leluhur termenung, pikirannya berkecamuk. Seorang pemuda dengan kekuatan yang melonjak drastis dalam hitungan hari, yang tak memiliki motif jelas tetapi terus membantu mereka...

"Kamu bilang dia menyelamatkan Ling Mei," Leluhur bertanya setelah beberapa saat. "Bagaimana sikapnya terhadap gadis itu?"

Tetua Lian bertukar pandang dengan yang lain sebelum menjawab. "Dia terlihat sangat perhatian pada Ling Mei, Leluhur. Bahkan saat Ling Mei hampir kehilangan jiwanya, dia bertindak seolah-olah... ada hubungan khusus di antara mereka,"

Mendengar itu, ekspresi Leluhur semakin dalam.

Setelah merenung cukup lama, akhirnya Leluhur Sekte Api Langit menghela napas panjang.

"Bawa aku bertemu dengannya."

Para tetua saling berpandangan. "Siapa yang harus dipanggil, Leluhur?"

Leluhur menatap mereka semua dengan penuh wibawa.

"Plasura. Juga Ling Mei dan Li Wei. Aku ingin berbicara langsung dengan mereka. Bukankah dia masih disini. Aku bisa merasakan auranya."

Tetua Lian segera memberi perintah kepada para murid untuk mencari ketiganya.

Leluhur menyandarkan punggungnya pada kursi, memejamkan matanya sesaat.

"Siapa sebenarnya pemuda itu... dan apa yang dia sembunyikan?" batinnya.

Di dalam ruangan yang sunyi, Plasura berdiri di hadapan Leluhur Sekte Api Langit, sementara para tetua dan tokoh penting sekte mengamati dengan waspada. Leluhur menatap pemuda itu dengan penuh selidik, menanti penjelasan yang akan diberikan.

